Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

Cerpen Ashilla Idola Cilik 1 "Jari Gemuk Shilla"

"Doremifasolasido..." suara piano yang dimainkan oleh Ibu guru mengalun dengan indahnya.


TO BE CONTINUE---------------------

saduRR's writing

Jumat, 26 Oktober 2012

Cerpen Ray Idola Cilik 3 "Perjuangan Sebuah Kamera"


Perjuangan Sebuah Kamera

Malam ini adalah malam yang tidak biasa dari malam sebelumnya. Lampu kota masih setia menerangi kota Solo. Kini jalan Slamet Riyadi sudah dipenuhi puluhan penonton. Sepertinya mereka sudah tahu kalau malam ini malam penampilan Solo Batik Carnival V (SBC V).
Dengan bangganya aku juga ikut andil dalam event yang diadakan kota Solo ini. Aku seorang diri menerobos masuk ditengah-tengah keramaiannya penonton. Sebuah kamera dslr aku kalungkan dileher. “Inilah saatnya aku menunjukkan aksi jepretanku selama ini”, gumamku dalam hati sambil menekan tombol shoot dan memfokuskan objek.
Peserta SBC melenggang dengan kostumnya yang menawan. Corak batik dengan tema yang berbeda-beda menambah semaraknya malam sabtu itu. Para fotografer tidak kalah semangat untuk mengabadikan moment SBC.
“Maaf, maaf…” kata yang bisa aku ucapkan saat bersenggolan dengan orang lain. Banyaknya orang terpaksa membuatku berdesak-desakan. Tetapi hal itu tidaklah masalah karena aku tertarik mengikuti kompetisi foto SBC yang sudah diumumkan seminggu sebelum SBC tampil. Untuk itu aku datang lumayan awal dan sudah mempersiapakan kamera dslr canon milikku.
“Tiiin… tiiin…” klakson motor polisi yang mengkondisikan jalanan supaya penonton tidak terlalu ke tengah karena akan dilewati peserta SBC. Tetapi penonton tetap bersikeras memenuhi tengah jalan saking semangatnya. Terutama saat kostum batik bermotif putih tampil ke jalan.
“Wah, banyak fotografer nih yang datang malam ini” ucapku dalam hati dan membuat sedikit pesimis dengan saingan lain. Jepretan demi jepretan belum juga kutemukan objek yang tepat untuk dikirim kompetisi. fotografer lain yang lebih berpengalaman dengan santainya membidik objek-objek yang dinilainya memiliki nilai seni tersendiri. Sedangkan aku masih pemula mengenai dunia foto-memfoto yang butuh keahlian khusus.
Saat iringan peserta SBC bermotif hijau senyum diwajahku mengembang seraya berkata “ Mungkin ini objek yang cocok dengan konsep foto yang akan aku  bidik”.
“Clap” blitz kameraku sudah merekam objek yang kupilih tadi. Saat yang bersamaan kesialan menimpaku karena berjubel dengan banyak orang. “Bruk” kameraku jatuh dan pecah dijalan. Dengan hati sedih dan kesal rasanya ingin marah, aku hanya bisa meneteskan air mata lalu kuusap lagi. Tak ingin orang lain melihat dengan tampang berbelas kasihan kepadaku. Ditengah kerumunan penonton aku punguti pecahan kamera dan meratapinya seperti impianku sudah pudar untuk menunjukan kepada orang tua hasil jepretanku.
Akhirnya aku pulang dengan kamera remukku. Dalam perjalanan aku masih bingung apa yang harus aku katakana kepada orang tua dengan nasib yang kualami sekarang. Sebenarnya orang tua setengah mengizinkan jika aku berkecimpung dengan kamera apalagi jadi seorang fotografer.
Setibanya dirumah ada rasa takut menyelimutiku. Kuketuk pintu dan dibukakan oleh ibu dengan tampang agak kesal. “Apa lagi yang kamu perbuat dengan kameramu Ray?” Tanya ibuku dengan kasar.
“Maaf bu jika kameraku sudah tidak seperti semula” jawabku pelan dan merasa bersalah. Kutunjukkan kamera yang hancur tadi dihadapan ayah dan ibuku.
“Seperti ini kamu akan jadi fotografer, merawat kamera saja tidak bisa!” ibuku membentak dan membuatku tertekan. “Sebaiknya kamu berhenti mengurusi kamera yang membuatmu semakin bertingkah aneh” usul ayahku yang ikutan kesal. Aku masih terdiam melihat canonku yang talinya masih menggantung.
*  *  *
            Pagi harinya masih kulihat kamera rusak itu diatas meja belajar. Kupegang lagi dan kubongkar bagian dalam kamera. Ternyata kartu memorinya masih utuh menempel dilubang tempatnya. “Alhamdulillah memori cardnya utuh” lirihku sambil tersenyum bersyukur kepada Allah. Setelah itu hatiku menjadi lebih tenang. Masih ada secercah harapan untuk mengikuti kompetisi foto SBC.
            Walaupun begitu masih ada keraguan tentang kartu memorinya. Kutekan tombol on laptop didepanku untuk memastikan apakah kartu memorinya bisa terdeteksi di komputer. Proses booting selesai kumasukkan kartu memori dilubang laptop. Lamanya menunggu ternyata komputer tidak bisa mendeteksi kartu memori. Meskipun bisa dibuka yang muncul hanyalah foto dengan gambar error dan itu tandanya kartu memori terkena virus.
            “Duh malah kena virus lagi” gerutuku dan kesal dengan semua ini. Musibahku belum cukup sampai disini. Tanganku dengan kesal mengotak-atik komputer agar kartu memori kembali seperti semula. Tetapi usaha itu masih belum membuahkan hasil. “Apalagi derita yang akan aku hadapi” keluhanku yang kesekian kalinya.
* * *
            Dua hari berlalu dan virus itu masih menyerang kartu memori. Usahaku berkonsultasi masih belum cukup untuk membasmi virus yang cukup ganas tersebut. Tetapi untuk hari ini mungkin keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Saat mengotak-atik lagi entah kenapa foto-foto bidikanku bisa muncul dan bisa dibuka. Aku berfikir ini adalah virus pokki yang hanya bertahan dua hari didalam benda yang terinfeksi. “Dasar virus pokki menyengsarakan!” umpatku kemudian. Tetapi Allah masih berbaik hati padaku dan aku berterima kasih untuk itu.
            You can count on me like one two three…” suara khas lagu Bruno Mars kuputar sambil mencari objek foto yang akan kukirimkan untuk lomba. Objek SBC bermotif hijau siap kukirim tanpa editan apapun karena itu termasuk ketentuan lomba.
            Sekitar pukul satu siang aku menuju ke lokasi lomba untuk menyerahkan foto jepretanku kepada panitia. Sedikit iri dan kurang percaya diri melihat karya-karya peserta lain yang begitu bagus. Aku tetap harus optimis dan bertekad bisa memenangi kompetisi foto tersebut. Akan aku tunjukkan kepada kedua orang tuaku bahwa aku bisa menjalani dunia fotografi dan memotret bukanlah sesuatu yang biasa.
            Aku masih menunggu hasil pengumuman kompetisi tiga hari lagi karena hari sebelum pengumuman foto-foto peserta akan dipajang dipameran. “Ya Allah semoga usahaku ini tidak sia-sia dan membuahkan hasil” do’aku dalam hati.
            Do’a selalu aku panjatkan saat hari pengumuman pemenang. Hadiahnya akan diserahkan secara simbolis oleh Bapak Walikota di Stadion Sriwedari tempat SBC pernah digelar. Detik-detik pembacaan pemenang kompetisi foto hatiku semakin tegang. Juara tiga dan dua sudah dibacakan dan saatnya giliran juara pertama untuk mengetahui siapa pemenangnya.
            “Dan juara satu diraih oleh saudara Raynald Prasetya dengan judul foto Batikku keberuntunganku” ucap panitia sambil mempersilahkan pemenang untuk maju ke depan. Betapa senangnya diriku saat itu dan bersyukur sekali dengan karunia yang diberikan oleh Allah. Sebelumnya aku masih ragu dengan hasil ini karena peserta lain menggunakan mode seperti till-shift, DEP, aperture value dan lainnya yang lebih professional. Sedangkan aku hanya menggunakan mode shutter priority untuk Canon 350D yang termasuk kamera bagi pemula.
            Hadiahnya langsung aku bawa pulang dan kutunjukkan kepada orang tua bahwa aku bisa menjadi Ray seorang fotografer seperti yang aku inginkan. “Ibu… ayah… Ray bisa menangin lomba” teriakku sambil berlari menemui mereka. “Ini piala dan uang hadiah dari lomba fotografi” ucapku dan kutunjukkan kepada mereka.
            “Ray selamat atas usaha kamu selama ini, ayah bangga memiliki anak seperti dirimu” sanjungan ayah yang memperkuat cita-citaku. “Selamat Ray, walau ayah dan ibu melarang tetapi tidak menyurutkan pendirian kamu akan dunia fotografi, ibu salut denganmu Ray” kata ibu seraya memeluk tubuhku. Akhirnya kedua orang tuaku setuju jika aku menggeluti bidang pemotretan.
            “Ray kamera siapa yang kamu bawa?” Tanya ibu penasaran sambil menunjuk kamera yang berada ditangan kananku. Dengan santainya kujawab pertanyaan ibu “Ini hadiah juga dari kompetisi foto yaitu sebuah kamera dslr canon 400D yang lebih professional daripada milikku yang sudah remuk” sambil tertawa renyah.
            “Dasar Raynald” canda ibuku. Semenjak itu hobi hunting foto bisa terlaksana dengan izin orang tua. Aku tambah gemar mencari objek dengan shoot dari sudut yang berbeda-beda. Menambah pengalaman dari dunia fotografi aku tingkatkan supaya cita-cita menjadi fotografer handal tercapai.

by : Salma Durroh Salsabilati
 XII IPA 4 / 2012

saduRR's writting

Selasa, 14 Agustus 2012

Short Story from Video Clip "GALAU - YOVIE NUNO" act NEGERI 5 MENARA

Sebuah makna dan isi dari sebuah video clip.

        Disuatu kafe tepatnya di kota Jakarta. Siang hari di kafe tersebut berkumpullah tiga sahabat dari lelahnya berjalan-jalan seharian. Ketika mereka sedang asyik minum dan mengobrol, datanglah seorang gadis yang cantik dan dia adalah teman dari salah satu tiga sahabat tersebut yaitu Ernest. Tiga sahabat tersebut adalah Gazza, Billy dan Ernest yang termasuk teman karib seperjuangan. Beberapa saat, Gazzalah yang paling tidak pede atau paling penasaran saat melihat gadis tersebut. Dengan bantuan Ernest, Gazza dikenalkan dengan si gadis cantik yang memiliki nama Eriska. 
           Seiring berjalannya waktu, Gazza dan Eriska saling menyimpan rasa suka tetapi mereka malu untuk mengungkapkan. Suatu hari Gazza meletakkan setangkai bunga di tangga depan rumah Eriska dengan tujuan ketika Eriska pulang dia mengambil setangkai bunga pemberiannya yang menyatakan betapa sayangnya Gazza terhadap Eriska. Hari kedua Gazza melakukan hal yang sama dan saat itulah Eriska mengambil setangkai bunga tersebut dengan penasaran dan merasa bahagia. Pada akhirnya mereka saling bertemu dan berkencan di rumah Eriska. Mereka masih canggung dan malu-malu, saling melempar senyum kemudian menundukkan kepala. Sebelum mereka sempat berbicara, ayah Eriska muncul dengan tampang marah dan tidak suka dengan Gazza. Eriska pergi ke kamar dengan suruan ayahnya dan Gazza hanya berdiam disofanya dengan perasaan takut serta bersalah. 
             Kejadian kemarin membuat hati Gazza semakin galau dengan cintanya. Di satu sisi Gazza dan Eriska saling mencintai tetapi di sisi lain ayah Eriska tidak menyetujui hubungan mereka. Mereka hanya terhubung lewat sms. Tidak sabarnya dengan keadaan ini membuat Gazza ingin menemui Eriska lagi dengan main ke rumah Eriska. Tetapi keinginan itu pudar setelah Eriska membalas bahwa ayahnya tidak membolehkan dia main ke rumah lagi. Tidak ada jalan lagi, Gazza akhirnya melakukan hal serupa yaitu meletakkan setangkai bunga untuk Eriska. Untuk kali ini bukannya Eriska yang mengambil tetapi ayah Eriska yang menemukan setangkai bunga tersebut. Karena marahnya ayah Eriska membuang bunga tersebut dengan bungan lainnya pemberian Gazza yang disimpan Eriska di vas kaca yang terletak di meja dekat ruang tamu. Saat itulah Gazza semakin frustasi dan bertambah galau akan cintanya terhadap Eriska. Pilihannya hanya satu yaitu menunggu sampai ayah Eriska memberi izin atas hubungan mereka agar bisa melanjutkan hubungan yang lebih serius.


saduRR's writing

Minggu, 22 Juli 2012

Cerpen Ray Idola Cilik 3 "RACUN DUNIA"

"RACUN DUNIA"   
           “Brukkk... Auu...”
            “Mama kakiku sakit”, rengekku menahan sakit pada mama setelah jatuh ke lantai. Waktu itu umurku masih 5 tahun.
            “Aduh Ray, hati-hati dong jatuh lagi kan, sini mama kasih obat merah”, jawab mama dengan nada agak kesal.
Aku memang anak yang agresif dan banyak tingkah sehingga wajar banyak bekas luka dibagian tubuhku karena sering jatuh dan terluka hingga berdarah. Dan aku tak pernah merasa jera walau sudah berkali-kali jatuh bangun merasakan sakit. Selain itu, aku juga termasuk anak yang kreatif, setiap ada sesuatu yang unik selalu aku buat barang atau mainan yang bisa aku manfaatkan.
            “Mama, kaleng bekasnya itu masih digunakan enggak?” tanyaku sambil menunjuk kaleng bekas yang terletak di dapur.
            “Enggak sayang, emangnya buat apa?” jawab mama penasaran.
            Aku akhirnya buka mulut tentang ide yang pernah muncul di pikiranku. Ide tentang suatu hobi baru yang membuat aku tertarik dan sedang aku tekuni akhir-akhir ini.
            “Kalau untuk kaleng yang ini mau aku susun seperti alat musik terus aku pukul-pukul pake stik  buat mainan, boleh ya ma?” rayuku pada mama.
            “Ehmmm... boleh, tapi mainnya jangan keras-keras apalagi sampai mengganggu yang lain” nasihat mamaku tanda menyetujui hobi baruku.
            Dengan girangnya aku langsung mengambil kaleng bekas tadi dan membawanya keluar. Kaleng bekas dengan ukuran yang berbeda-beda tadi berjumlah 5 buah, lumayan memanfaatkan kaleng bekas menjadi alat musik. Dari ideku yang muncul, kaleng bekas tadi aku susun dijadikan alat musik drum. Mungkin kaleng bekas bisa dipukul-pukul seperti alat musik drum.
Tiba-tiba aku  merasa ada yang kurang dari alat musik ini, kemudian aku pergi ke dapur lagi mencari barang yang menurutku  bisa digunakan untuk melengkapi alat musik baruku. Lalu mataku menangkap suatu barang di pojok ruang dapur yang berbentuk bundar dengan ukuran sedang.
            “Nah, panci ini sepertinya cocok deh kalau buat drum hihi...” tawaku melihat panci gosong ini. “Aku ambil aja deh semoga mama gak marah, walau bagian belakangnya gosong enggak apa-apa yang penting bisa dipukul dan menghasilkan suara.”
            Langkahku semakin kencang dengan panci gosong ditangan. Alat musik baruku akhirnya selesai aku susun dan bentuknya seperti alat musik drum walau sebenarnya jauh beda. Bunyinya pun tak menyerupai bunyi drum.
            “Bukkk...bukkk...tanggg....tanggg...bukkk...tanggg...”
            Suara drum yang mulai aku mainkan dengan begitu semangat. Aku terhanyut dalam memainkan drum, entah tak tau mengapa diriku merasa menyatu sekali dengan alat musik yang satu ini. Lama-kelamaan hobiku yang satu ini menjadi kegemaran yang luar biasa hebatnya dan aku begitu suka memainkannya meski hanya di pukul.
            Ketika ulang tahunku yang ke-8, kedua orang tuaku memberikan hadiah yang sangat mengejutkan. Mereka membelikan drum lengkap dengan stiknya spesial untuk aku. Aku semakin semangat dan giat berlatih memainkan drum, les main drum juga aku ikuti. Aku ingin bertekad menjadi pemain drum yang hebat agar pengorbanan orang tuaku tidak sia-sia. Alat musik lain juga aku pelajari dengan sendiri tanpa les apapun.
Apakah karena jiwaku telah menyatu dengan musik hingga alat musik lainnya dengan mudah aku mainkan, seperti gitar, keyboard, bass, dan sebagainya. Selain suka main drum aku juga suka main gitar, permainan gitarku juga tidak kalah bagusnya dengan permainan drumku. Aku juga sering sekali mengikuti berbagai lomba main drum ataupun yang lain, aku juga tidak jarang memenangkan lomba tersebut. Aku pernah mendapatkan piagam penghargaan untuk kategori pemain drum termuda yaitu waktu aku masih berumur 10 tahun. Aku telah membuat bangga kedua orang tuaku dengan prestasi-prestasi yang aku raih.
            “Ray, papa bangga punya anak seperti kamu. Papa akan selalu mendukung kamu. Kamu hebat dan kamu pasti bisa, berjuang dan semangat”, kata-kata papaku yang selalu memberi semangat dalam hidupku dan aku tak akan pernah melupakannya.
            Waktu demi waktu serasa begitu cepat sampai aku tak menyadari kalau aku sudah masuk SMP. Di SMP semakin banyak pengalaman yang aku dapat, baik segi lingkungan maupun pergaulan. Aku menjadi tahu tentang pergejolakan hidup di dunia luar. Banyak masalah yang muncul tetapi aku harus bisa menjalaninya. Perasaan cinta pada lawan jenis mulai merasuki dalam diriku dan rasa saling memahami antara satu sama lain dalam suatu ikatan.
            “Degg...degg...”, jantungku berdesir kencang setiap melihat seseorang yang bagiku tidak asing lagi. Aku merasa gugup dan cangguh jika berhadapan dengannya apalagi berbicara sesuatu padanya. Perasaan ini begitu cepat menjalar di relung hatiku, entah tak tahu kapan masuknya.
            “Ray, tungguuu!”, telingaku seperti mendengar ada yang memanggilku saat aku akan melangkahkan kaki ke gerbang sekolah dan tak tahu dimana asalnya. Ketika aku tengok ke belakang, sesosok gadis dengan kulit putih dan rambut yang dibiarkan terurai berlari mengejar diriku. Dia adalah gadis yang satu kelas denganku.
            “Ya, ada apa Cha?”, dengan ragu dan jantung yang deg-deggan aku pun menjawab.
            “Ini bukumu aku kembalikan, makasih yah dah mau minjemin ke aku”, kata Acha sambil memberi buku yang dia pinjam padaku. Suaranya yang lembut semakin membuat hatiku tak karuan. Aku seperti terhipnotis setiap kali dia berbicara, dia bagaikan malaikat cantik yang membuat aku mabuk kepayang.
            Semenjak pikiranku dibayang-bayangi oleh Acha, hari-hariku berubah drastis. Aku menjadi tidak fokus belajar dan main drum. Hidupku menjadi berantakan, prestasiku semakin menurun dan kacau. Acha memang telah membuat diriku gila karena cinta yang begitu kuat menusuk seluruh tubuhku.
            “Ahh gila, gara-gara cewek hidupku berubah seperti ini”, gerutuku dalam hati ketika aku sedang memikirkan wajah Acha lagi. “Tapi kenapa perasaan ini datang dengan tiba-tiba dan sangat sulit untuk aku hilangkan. Apakah aku telah jatuh cinta pada seorang cewek?”.
            Rasa cintaku padanya seakan menggebu-gebu bagaikan badai yang meluluh-lantahkan bumi. Drumku seakan hilang begitu saja setelah sekian lama menyatu dalam jiwa. Aku sudah tak mendengar suara drumku lagi, terakhir kali aku memainkannya adalah sekitar 3 tahun yang lalu. Setelah itu, tak pernah sedikitpun aku menyentuh alat musik tersebut.
            “Ray, apa yang membuat dirimu berubah begini hingga kamu melupakan drummu, padahal kamu sangat antusias sekali dengan alat musik drum sejak kamu berusia 5 tahun”.
            Aku bingung ingin menjawab apa pertanyaan yang diberikan oleh mama pada suatu malam. “Eee...eee...enggak ada apa-apa kok ma hehe”, dengan ragu-ragu aku pun menjawab. Sebenarnya aku malu mengatakan pada mama kalau aku sedang jatuh cinta pada seorang cewek.
            Hari-hari telah aku lewati begitu cepat, aku sudah naik ke kelas 9. Perasaan cinta ini masih tersimpan, apalagi ketika di sekolah aku selalu bertemu dengan Acha karena aku dan dia satu kelas lagi. Aku masih belum bisa mengungkapkan rasa cinta ini padanya. Cinta ini telah lama kusimpan begitu lama hingga tak mampu lagi aku membukanya.
            “Tok-tok-tokk...”, suara pintu kamarku diketuk.
 “Ray cepat bangun sudah jam 6, hari ini kan pengumuman kelulusan nanti kamu terlambat lagi. Ayo bangun Ray”,  sambil membuka pintu mama menyuruhku bangun.
“Iya mama”, jawabku dengan malas-malasan.
Hari ini memang hari pengumuman kelulusan Ujian Nasional bagi kelas 9 termasuk aku. Aku sangat khawatir jika nanti tidak lulus. Hasil Ujian Nasional terpampang di papan pengumuman sekolah pada jam 9 pagi. Tepat jam 9 semua siswa berlari-lari dan berdesak-desakan ke halaman sekolah tempat dimana papan pengumuman tersebut ditaruh.
“Alhamdulilllah semua kelas 9 lulus seratus persen”, ucap syukurku pada Allah. Saat itu hatiku sangat bahagia, akhirnya aku bisa lulus. Sebelumnya aku tak menyangka kalau aku lulus tapi aku tetap optimis.
“Hey Ray, selamat kita lulus seratus persen. Aku senang sekali melihatnya”.
“Iya sama-sama, aku juga sangat senang, perjuang kita selama 3 tahun tidak sia-sia”.
Begitu senangnya, percakapan antara aku dan Acha terlihat biasa saja. Aku tak merasa kalau cewek di depanku adalah cewek yang aku sukai sejak aku masuk SMP.
            “Satu lagi Ray, aku mau ngucapin selamat tinggal karena aku akan pergi ke Prancis untuk melanjutkan SMA disana. Sorry aku baru bisa ngomong sekarang, I LOVE YOU RAY”, kata Acha sambil berlalu meninggalkanku.
Hatiku terasa remuk seperti ada sebuah cambuk yang menikam dadaku. Aku tak mampu lagi mengingat apalagi mendengar kata-kata terakhir dari Acha. Seperti mimpi tetapi ini benar-benar nyata. Bingung apa yang sedang aku rasakan antara senang karena Acha juga mencintaiku dan sedih karena dia akan pergi meninggalkanku.
Sesampainya di rumah aku hanya merenung tentang kejadian tadi, kejadian yang aneh. Tetapi yang paling aneh setelah Acha mengatakan “i love you”, aku justru merasa biasa saja tanpa reaksi apapun.
“Aneh kenapa aku malah tidak senang kalau Acha ternyata juga cinta padaku, padahal itu yang dulu aku harap-harapkan semoga dia juga merasakan hal yang sama sepertiku”, batinku memikirkan hal itu lagi.
“Cinta memang gila, seenaknya saja datang dan pergi tanpa permisi”, gerutuku dengan kesal. Aku semakin bingung apa sebenarnya cinta, yang dulu bisa buat mabuk kepayang dan sekarang hanya diam seribu bahasa.
Aku kembali normal seperti sedia kala setelah masuk SMA dan tak bertemu lagi dengan Acha. Prestasiku kembali meningkat dan permainan drum semakin hebat dan lanyah. Sekitar usia 18 tahun aku membentuk sebuah band dengan drummernya diriku sendiri. Perhargaan-perhagaan juga banyak aku dapatkan.
Masa SMP ku adalah masa yang paling merugi bagi diriku. Aku seperti orang bodoh yang dipermainkan oleh cinta terutama wanita. Wanita telah butakan semua kehidupanku, sekarang aku menganggap kalau Wanita adalah “Racun Dunia”.

Foto Ray terbaru source from facebook


 saduRR's writing